Archive for March, 2007

AKU

Tuesday, March 27th, 2007

Aku terlahir sebagai yang didahulukan.

Dibesarkan oleh kemurungan, kesendirian, dan kesunyian

Aku ditempa oleh kerasnya hidup

Diajari bahasa hutan dan kicauan burung

Merangkak bersama angin

Dan tidur di pembaringan malam

Ayahku adalah langit yang menaungiku

tanpa banyak berkata

Ibuku adalah bumi yang mengajariku banyak hal tentang kehidupan

Saudaraku adalah sisi lain dari hidupku yang penuh tawa dan canda

Aku adalah aku yang mewarisi sifat langit dan bumi…

Surat untuk sahabat {1}

Monday, March 12th, 2007

Oktober menjelang lanjut

Di tahun yang ke seribu empat ratus dua puluh tujuh

Ku lengkapi perjalanan ini dengan merangkai sebuah jaring sutra

Sembari berjalan memeluk erat batang usia yang kian rapuh

Bergandeng di gerai-gerai tinta hitam di akhir kata

Tergores pada layar kaca

Ku coba mengores pena di catatan hari ini

Teruntuk seorang sahabat yang tak pernah tua ceritanya

Semoga 4jj senantiasa memberikan warna-Nya di setiap detik perjalanan

Bagaimana kabarmu kawan?

S’moga kamu sehat dan senantiasa dirahmati karunia terbesar berupa Cinta dan kasih sayang-Nya. Ketika surat ini terbaca, aku telah pergi bersama angin menyusuri tepian senja yang akan segera gelap di pelupuk mata. Ijinkanku sejenak menyita waktumu untuk sekadar mendongeng untuk mu dengan kisah klasik yang usang namun tetap indah tuk sekiranya dikenang…

Di sebuah gubuk tua dipinggir danau hati, hiduplah seorang penyair muda yang hidupnya ditopang oleh pohon kata yang senantiasa memberikan buah yang ranum dan manis tuk terbaca. Ia terlahir sebagai yang didahulukan. Dibesarkan oleh kemurungan, kesendirian, dan kesunyian. Ia ditempa oleh kerasnya hidup, diajari bahasa hutan dan kicauan burung. Merangkak bersama angin dan tidur di pembaringan malam. Ayahnya adalah langit yang menaungi tanpa banyak berkata. Ibunya adalah bumi yang mengajari banyak hal tentang kehidupan. Saudaranya adalah sisi lain dari hidupnya yang penuh tawa dan canda. Ia adalah Ia yang mewarisi sifat langit dan bumi…

Dua puluh tahun sudah ia menjalin episode menjadi setengah cerita dimana perjalanan waktu begitu cepat melewatkan ceritanya sehingga aku tak bisa menggerai episod per episodnya. Jadi aku rangkai saja apa yang ada di isi kepalaku..semoga berkenan dan maaf jika ini bukan yang terbaik.

Suatu hari ia menulis sebuah surat pada belahan hatinya yang terangkai penuh kata indah.

Seindah bunga tulip yang mekar di samping tangga lagunya. Semurni mata air hati yang memenuhi tumpahan tinta pada kertas lusuhnya. Dan setulus bias mentari memeluk dinginnya angin di lembah jiwa…

“Wahai Perempuan yang namanya telah terukir di dinding hatiku”

Engkau telah membuat hatiku tak lagi utuh saat ini, karna ia tinggal setengahnya saja. Ku berharap umurnya kan lama hingga suatu saat nanti aku kan menyatukannya menjadi satu kembali…semoga Tuhan yang Maha Indah memberikanku sedikit saja bagian dari-Nya.

Kalau boleh ku bercerita tentang sebuah hati

apa yang yang terjadi…

mengapa ini terjadi…

dan apa ini…

sungguh aku tak tahu harus memulainya darimana. Aku paham dan mengerti sepenuhnya tentang keadaan ku dan semua kataku serta apa yang aku miliki.

Ingat saat itu…

Ketika aku memberanikan diri untuk memulai dan membuka kata padamu…

Saat hujan tak jua berhenti walau sinar mentari mulai redup…

Saat tawa dan canda membuat sepi tertawa dan saat semuanya bermula

Kala itu,

Tak sengaja angin berhembus diladangku yang gersang menebar benih mawar merah yang cantik beriring rintik hujan yang membelai lembut muka tanah ladangku. Aku berkata bahwa

Tuhan telah menggeraikan tiap keajaiban-Nya padaku hingga bibir ini tak kuasa bagaimana harus mengatakannya dan ingin jiwa ini merasakan semua harapan ku terwujud satu persatu…

Tapi aku salah membaca skrip-Nya. Aku membaca naskah orang lain yang bukan bagianku.

Maaf rasanya aku malam ini telah membuat suasananya menjadi tak nyaman…

sekali lagi maafkan aku!!

Kamu tahu..

Setelah ku pergi, ku jejaki langkah-langkah kekhawatiran yang pernah datang padaku dan berkata anganku akan segera buyar dan malam ini ku langkahkan kaki ini menelusuri jalan yang tak biasa ku lalui untuk menuju istana kecil ku. Sepanjang jalan aku hanya merenungi setiap kata dan sikap ku selama ini sembari meminta pendapat pada malam yang tetap saja membungkam…entah karena apa?

“Kesendirian aku pulang padamu….aku kangen pada kesunyiannya malam, indahnya purnama yang tersenyum….dan pada binatang malam yang bernyanyi menghiburku…”

‘AKu Pulang….’

Pudarnya Cahaya Cleopatra; Sebuah Renungan {3}

Friday, March 9th, 2007

Dalam tidur aku bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku untuk
makan malam di istananya." Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti akan aku perkenalkan denganmu" kata Ratu Cleopatra. " Dia memintaku untuk
mencarikannya seorang pangeran, aku melihatmu cocok dan berniat memperkenalkannya denganmu". Aku mempersiapkan segalanya. Tepat puku 07.00 aku datang ke istana, kulihat Mona Zaki dengan pakaian pengantinnya, cantik sekali. Sang ratu mempersilakan aku duduk di kursi yang berhias berlian.


Aku melangkah maju, belum sempat duduk, tiba-tiba " Mas, bangun, sudah jam
setengah empat, mas belum sholat Isya" kata Raihana membangunkanku. Aku
terbangun dengan perasaan kecewa. " Maafkan aku Mas, membuat Mas kurang
suka, tetapi Mas belum sholat Isya" lirih Hana sambil melepas mukenanya,
mungkin dia baru selesai sholat malam. Meskipun cuman mimpi tapi itu indah
sekali, tapi sayang terputus. Aku jadi semakin tidak suka sama dia, dialah
pemutus harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi apakah dia bersalah, bukankah dia berbuat baik membangunkanku untuk sholat Isya. Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu dari mana sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar terpenjara dalam suasana konyol. Aku belum bisa menyukai Raihana. Aku sendiri belum pernah jatuh cinta, entah kenapa bisa dijajah pesona gadis-gadis titisan Cleopatra.


" Mas, nanti sore ada acara qiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akan
datang termasuk ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang bareng, tidak
enak kalau kita yang dieluk-elukan keluarga tidak datang" Suara lembut
Raihana menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm.
Pelan-pelan ia
letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan segelas wedang jahe.
Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja. " Ma?f..maaf jika
mengganggu Mas, maafkan Hana," lirihnya, lalu perlahan-lahan beranjak
meninggalkan aku di ruang kerja. " Mbak! Eh maaf, maksudku D..Din..Dinda
Hana!, panggilku dengan suara parau tercekak dalam tenggorokan. " Ya Mas!"
sahut Hana langsung menghentikan langkahnya dan pelan-pelan menghadapkan dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum, agaknya ia bahagia dipanggil
"dinda". " Matanya sedikit berbinar. "Te..terima kasih Di..dinda, kita berangkat bareng kesana, habis sholat dhuhur, insya Allah," ucapku sambil menatap wajah Hana dengan senyum yang kupaksakan.


Raihana menatapku dengan wajah sangat cerah, ada secercah senyum bersinar
dibibirnya. " Terima kasih Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju yang
mana Mas, biar dinda siapkan? Atau biar dinda saja yang memilihkan ya?".
Hana begitu bahagia. Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan bakti  meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanya selama ini. Aku belum pernah melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku. Kalau wajah sedihnya  ya. Tapi wajah tidak sukanya belum pernah. Bah, lelaki macam apa aku ini, kutukku pada diriku sendiri. Aku memaki-maki diriku sendiri atas sikap dinginku selama ini., Tapi, setetes embun cinta yang kuharapkan membasahi hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan Cleopatra itu? Bagaimana aku mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang paling membenci diriku sendiri di dunia ini

Sayap Garuda Tertembak Jatuh

Wednesday, March 7th, 2007

"Dipersembahkan bagi orang-orang yang kehilangan orang yang mereka cintai pada kecelakaan pesawat Garuda di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta.."

Bogor, 7 hari di bulan ketiga tahun 2007

Hujan masih menjadi teman setia minum teh pagi ini

walau tampak masih malu-malu ia tetap saja turut berduka

selang tak berapa lama

tersaksikanlah asap hitam mengepul menjadi awan

nyala api dengan leluasa melalap air…

Garuda tergelincir..katanya..mereka dan semua

sayapnya terkoyak,tubuhnya lemas terkulai dan kemudian

porak poranda tercabik-cabik oleh tangan-tangan jalang

Sayap Garuda ku tertembak jatuh..

beriring derai air mata yang telah mengering dan membantu

sementara banyak pemimpin mencari muka..

biar terkenal katanya..retorika pun mulai dikumandangkan

bukan sebuah penyesalan ataupun solusi konkrit

karna itu hanya omong kosong..

Belum lekang bumi berguncang di negri barat

sudah harus menanggung beban GAruda kebanggaan

bersabarlah…renungi sejenak..buka mata dan lihatlah..bacalah..

menangislah..biar terlegakan..walau tak akan pernah membuat waktu merasa kasihan…

Pudarnya Cahaya Cleopatra; Sebuah Renungan {2}

Tuesday, March 6th, 2007

Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah. Betapa susah
hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat bersama
dengan makhluk yang bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit cintaku
belum juga tumbuh. Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya yang teduh tetap terasa asing. Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersama Raihana mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku mencoba membuang jauh-jauh rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya kusayang dan kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, acuh tak acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang kerja. Aku merasa hidupku ada lah sia-sia, belajar di luar negeri sia-sia, pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia. Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihanapun merasakan hal yang sama, karena ia orang yang berpendidikan, maka diapun tanya, tetapi kujawab " tidak apa-apa koq mbak, mungkin aku belum dewasa, mungkin masih harus belajar berumah tangga" Ada kekagetan yang kutangkap diwajah Raihana ketika kupanggil ‘mbak’, " kenapa mas memanggilku mbak, aku kan istrimu, apa mas sudah tidak mencintaiku" tanyanya dengan guratan wajah yang sedih. "wallahu a’lam" jawabku sekenanya. Dengan mata berkaca-kaca Raihana diam menunduk, tak lama kemudian dia terisak-isak sambil memeluk kakiku, "Kalau mas tidak mencintaiku, tidak menerimaku sebagai istri kenapa mas ucapkan akad nikah?


Kalau dalam tingkahku melayani mas masih ada yang kurang berkenan, kenapa
mas tidak bilang dan menegurnya, kenapa mas diam saja, aku harus bersikap
bagaimana untuk membahagiakan mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk
menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku didunia ini".
Raihana mengiba penuh pasrah. Aku menangis menitikan air mata buka karena
Raihana tetapi karena kepatunganku. Hari terus berjalan, tetapi komunikasi
kami tidak berjalan. Kami hidup seperti orang asing tetapi Raihana tetap
melayaniku menyiapkan segalanya untukku.


Suatu sore aku pulang mengajar dan kehujanan, sampai dirumah habis maghrib, bibirku pucat, perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali segelas kopi buatan
Raihana tadi pagi, Memang aku berangkat pagi karena ada janji dengan teman.
Raihana memandangiku dengan khawatir. "Mas tidak apa-apa" tanyanya dengan perasaan kuatir. "Mas mandi dengan air panas saja, aku sedang menggodoknya, lima menit lagi mendidih" lanjutnya. Aku melepas semua pakaian yang basah. "Mas airnya sudah siap" kata Raihana. Aku tak bicara sepatah katapun, aku langsung ke kamar mandi, aku lupa membawa handuk, tetapi Raihana telah berdiri didepan pintu membawa handuk. "Mas aku buatkan wedang jahe" Aku diam saja. Aku merasa mulas dan mual dalam perutku tak bisa kutahan. Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan Raihana mengejarku dan memijit-mijit pundak dan tengkukku seperti yang dilakukan ibu. " Mas masuk angin. Biasanya kalau masuk angin diobati pakai apa, pakai balsam, minyak putih, atau jamu?" Tanya Raihana sambil menuntunku ke kamar. "Mas jangan diam saja dong, aku kan tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membantu Mas". " Biasanya dikerokin" jawabku lirih. " Kalau begitu kaos mas dilepas ya, biar Hana kerokin" sahut Raihana sambil tangannya melepas kaosku. Aku seperti anak kecil yang dimanja ibunya. Raihana dengan sabar mengerokin punggungku dengan sentuhan tangannya yang halus. Setelah selesai dikerokin, Raihana membawakanku semangkok bubur kacang hijau. Setelah itu aku merebahkan diri di tempat tidur. Kulihat Raihana duduk di kursi tak jauh dari tempat tidur sambil menghafal Al Quran dengan khusyu. Aku kembali sedih dan ingin menangis, Raihana manis tapi tak semanis gadis-gadis mesir titisan Cleopatra.

Pudarnya Cahaya Cleopatra; Sebuah Renungan

Tuesday, March 6th, 2007

Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalam kandungan aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal." Ibunya Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo dulu" kata ibu. "Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon keikhlasanmu" , ucap beliau dengan nada mengiba.


Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi mentari pagi dihatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan diriku.


Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu saja dan tidak tahu alasannya. Yang jelas aku sudah punya kriteria dan impian tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa berhadapan dengan air mata ibu yang amat kucintai. Saat khitbah (lamaran) sekilas kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang baby face dan anggun.


Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama sekali. Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, "cantiknya alami, bisa jadi bintang iklan Lux lho, asli ! kata tante Lia. Tapi penilaianku lain, mungkin karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra, yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung indah, mata bulat bening khas arab, dan bibir yang merah. Di hari-hari menjelang pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku untuk calon istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia.


Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku. Hari pernikahan datang. Duduk dipelaminan bagai mayat hidup, hati hampa tanpa cinta, Pestapun meriah dengan emapt group rebana. Lantunan shalawat Nabipun terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat Raihana tersenyum manis, tetapi hatiku terasa teriris-iris dan jiwaku meronta. Satu-satunya harapanku adalah mendapat berkah dariAllah SWT atas baktiku pada ibuku yang kucintai. Rabbighfir li wa liwalidayya!


Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya
sekedar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayatNya.
Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan kepura-puraanku. Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir kota Malang.

Negeri di Puncak Hijau

Friday, March 2nd, 2007

Ada dongeng yang tak terbaca oleh mata

Akan cerita sebuah negeri di Puncak Hijau

Katanya dahulu banyak yang berkata tentangnya

Tapi kini dikata saja tidak apa lagi didengar lalu

Negeri yang hijau, rumah bagi semesta kehidupan

Embun berayun di balik daun kala surya melamun

Cucak hutan riang berkicau saat bias cahya berderet menerpa lantai hutan

Hingga jelas berai-berai bening berhamburan

Kemudian datang tak diundang para pengacau dan pecundang

Merampas dan memotong rantai-rantai panjang

Membuat generasi muda negeri mati telanjang

Di tanah-tanah yang kian gersang

Terkoyak sudah keperawanan negeri,malang

Diterjang bintang-binatang jalang

Yang kini menyisakan kenangan yang tak terkenang

Bagi anak cucu di masa mendatang

(fei/291106)

Generasi angkatan 40

Friday, March 2nd, 2007

Kami datang dari seluruh negeri

Membawa pesan ibu pertiwi

Untuk menimba, mengabdi dan membenahi

Tubuh-tubuh bumi yang meringis peri

Inilah kami,

Bagian yang terpatri dalam konservasi

Mewarisi keahlian merawat ibu pertiwi

Bersama puspa…bersama satwa

Berjuang di alam raya yang kian merana

Orang pandang kami aneh bukan berarti bukan manusia

Karna air,gunung, dan rimba tempat bermain kami

Bicara bahasa alam, berpikir seluas cakrawala

Mengukir nama dicatatan waktu dengan pena kayu

Bertuliskan Generasi Angkatan empat puluh

Satu…dua…tiga dan empat tahun kami ditempa

Dan kini saatnya kami pulang

Terbang mengawang menebar benih-benih kehidupan baru dilahan gersang

Dengan tangan-tangan ajaib sembari mengeja

Doa walau tak seberapa hingga lanjut usia

(fei/291106)

Epilog Ranting kering

Friday, March 2nd, 2007

Tanah..tanah..tanah ku gersang

Air..air..air kami kerontang

Angin..angin..angin mereka meradang

Pohon..pohon..pohon dia telanjang

Ada daun kusam yang coba belajar terbang

Mencari tempat tuk sekedar bertandang

Tapi sial semua penuh ilalang jalang

Aku pulang…

Langit tak lagi mau mendung

Karna ia tak punya bekal dikantung

Bumi kembali terkatung

Karna isinya cuma ada patung

Ranting kering berderik…

Tanda nyawanya t’lah tercekik

Hanya tinggal detik demi detik

pada pikiran-pikiran picik…

(fei/131106)

DOA {2}

Thursday, March 1st, 2007

30 September 2006

Doa (2)

Jika itu adalah awal permulaan adanya jawaban

kini aku juga masih tak mengerti

Maka di penghujung September, masih saja kering…walau kadang terasa

bias-bias hujan membasahi pipinya tapi tetap saja tak membuatnya basah…

Ya 4jj, hamba-Mu ini mengemis pada-Mu

Karna hamba fakir…

Karna hamba miskin…

Apa yang sebenarnya ujian yang Engkau cobakan padaku

Apakah dia ujianku,..

Terlalu berat, ya 4jj…

Hamba khawatir, hamba-Mu ini terlalu lemah imannya,

Terlalu dangkal ilmunya…dan kurang bijak kata serta perangainya..

Lantas bagaimana hamba bisa membimbingnya…?

Semoga Engkau memudahkan segala perkaranya…Amin

Satu sisi ada sesuatu yang tumbuh di sela-sela bayang putih dan hitam

Apakah itu baik atau tidak

Hanya Engkau lah yang mengetahuinya.