Oktober menjelang lanjut
Di tahun yang ke seribu empat ratus dua puluh tujuh
Ku lengkapi perjalanan ini dengan merangkai sebuah jaring sutra
Sembari berjalan memeluk erat batang usia yang kian rapuh
Bergandeng di gerai-gerai tinta hitam di akhir kata
Tergores pada layar kaca
Ku coba mengores pena di catatan hari ini
Teruntuk seorang sahabat yang tak pernah tua ceritanya
Semoga 4jj senantiasa memberikan warna-Nya di setiap detik perjalanan
Bagaimana kabarmu kawan?
S’moga kamu sehat dan senantiasa dirahmati karunia terbesar berupa Cinta dan kasih sayang-Nya. Ketika surat ini terbaca, aku telah pergi bersama angin menyusuri tepian senja yang akan segera gelap di pelupuk mata. Ijinkanku sejenak menyita waktumu untuk sekadar mendongeng untuk mu dengan kisah klasik yang usang namun tetap indah tuk sekiranya dikenang…
Di sebuah gubuk tua dipinggir danau hati, hiduplah seorang penyair muda yang hidupnya ditopang oleh pohon kata yang senantiasa memberikan buah yang ranum dan manis tuk terbaca. Ia terlahir sebagai yang didahulukan. Dibesarkan oleh kemurungan, kesendirian, dan kesunyian. Ia ditempa oleh kerasnya hidup, diajari bahasa hutan dan kicauan burung. Merangkak bersama angin dan tidur di pembaringan malam. Ayahnya adalah langit yang menaungi tanpa banyak berkata. Ibunya adalah bumi yang mengajari banyak hal tentang kehidupan. Saudaranya adalah sisi lain dari hidupnya yang penuh tawa dan canda. Ia adalah Ia yang mewarisi sifat langit dan bumi…
Dua puluh tahun sudah ia menjalin episode menjadi setengah cerita dimana perjalanan waktu begitu cepat melewatkan ceritanya sehingga aku tak bisa menggerai episod per episodnya. Jadi aku rangkai saja apa yang ada di isi kepalaku..semoga berkenan dan maaf jika ini bukan yang terbaik.
Suatu hari ia menulis sebuah surat pada belahan hatinya yang terangkai penuh kata indah.
Seindah bunga tulip yang mekar di samping tangga lagunya. Semurni mata air hati yang memenuhi tumpahan tinta pada kertas lusuhnya. Dan setulus bias mentari memeluk dinginnya angin di lembah jiwa…
“Wahai Perempuan yang namanya telah terukir di dinding hatiku”
Engkau telah membuat hatiku tak lagi utuh saat ini, karna ia tinggal setengahnya saja. Ku berharap umurnya kan lama hingga suatu saat nanti aku kan menyatukannya menjadi satu kembali…semoga Tuhan yang Maha Indah memberikanku sedikit saja bagian dari-Nya.
Kalau boleh ku bercerita tentang sebuah hati
apa yang yang terjadi…
mengapa ini terjadi…
dan apa ini…
sungguh aku tak tahu harus memulainya darimana. Aku paham dan mengerti sepenuhnya tentang keadaan ku dan semua kataku serta apa yang aku miliki.
Ingat saat itu…
Ketika aku memberanikan diri untuk memulai dan membuka kata padamu…
Saat hujan tak jua berhenti walau sinar mentari mulai redup…
Saat tawa dan canda membuat sepi tertawa dan saat semuanya bermula
Kala itu,
Tak sengaja angin berhembus diladangku yang gersang menebar benih mawar merah yang cantik beriring rintik hujan yang membelai lembut muka tanah ladangku. Aku berkata bahwa
Tuhan telah menggeraikan tiap keajaiban-Nya padaku hingga bibir ini tak kuasa bagaimana harus mengatakannya dan ingin jiwa ini merasakan semua harapan ku terwujud satu persatu…
Tapi aku salah membaca skrip-Nya. Aku membaca naskah orang lain yang bukan bagianku.
Maaf rasanya aku malam ini telah membuat suasananya menjadi tak nyaman…
sekali lagi maafkan aku!!
Kamu tahu..
Setelah ku pergi, ku jejaki langkah-langkah kekhawatiran yang pernah datang padaku dan berkata anganku akan segera buyar dan malam ini ku langkahkan kaki ini menelusuri jalan yang tak biasa ku lalui untuk menuju istana kecil ku. Sepanjang jalan aku hanya merenungi setiap kata dan sikap ku selama ini sembari meminta pendapat pada malam yang tetap saja membungkam…entah karena apa?
“Kesendirian aku pulang padamu….aku kangen pada kesunyiannya malam, indahnya purnama yang tersenyum….dan pada binatang malam yang bernyanyi menghiburku…”
‘AKu Pulang….’